Kota kelahiran saya, tanggal 10
februari 2013 akan merayakan ulang tahun ke-116. Bukan usia yang bisa dibilang
muda lagi. Balikpapan telah menjadi salah satu kota terpenting di pulau
Kalimantan. Balikpapan dikenal menjadi gerbang Kalimantan, membuat Balikpapan
berkembang begitu pesat dibandingkan daerah lain di Kalimantan. Meski begitu,
Balikpapan masih memiliki banyak pekerjaan rumah yang harus diperbaiki demi
kemajuan dan kesejahteraan masyarakatnya.
Kota Balikpapan memiliki segudang
prestasi, salah satu yang sangat mencolok adalah Piala Adipura. Kebersihan kota
Balikpapan memang diakui banyak pihak termasuk ASEAN. Jika, saya bandingkan ke
kota lain yang saya kunjungi, Balikpapan masih yang terbaik ^0^. Selain itu,
Balikpapan memiliki prestasi lain baik di Kaltim maupun nasional yang saya gak
bisa disebutkan karena saya gak tahu banyak. Hehehehehe ^^V
Pertumbuhan ekonomi Balikpapan setiap
tahun semakin meningkat, yang aku tahu, tingkat pertumbuhan ekonomi Balikpapan
per tahun telah mencapai 9%. Sebuah angka yang cukup mengagumkan.Saya harap itu
tidak membuat pemerintah Balikpapan diatas angin. Sembarang membuka keran
investasi dengan tujuan pembangunan tetapi berefek buruk terhadap masyarakat.
Seperti memberi izin pembangunan mall baru, memang supermall sekarang isunya
masih gantung. Tetapi kemudian muncul isu City Walk. Entah apa tujuan, saya
pikir sudah cukup banyak mall di Balikpapan. Tidak semua ramai dikunjungi oleh
masyarakat. karena hal tersebut rencana pemkot mengubah pasar inpress jadi mall
sangat ditolak masyarakat. revitalisasi pasar yang dibutuhkan. pemkot jangan
hanya pikirkan pertumbuhan secara makro tetapi mikro masyarakat juga
dipikirkan.
Misalnya pembangunan minimarket,
pengelolaan pasar tradisional di Balikpapan ada yang masih belum maksimal.
Pemkot sebaiknya memikirkan pasar tradisional terlebih dahulu ketimbang
mengijinkan minimarket. Orang menengah keatas pengennya ke
minimarket karena nyaman dan gak becek. Ya pemkot buat pasar tradisional
seperti yang diinginkan. Saya yakin mindset mereka masih “ibu budi pergi ke
pasar”, bukan “ke supermarket, lebih-lebih ke minimarket”.
Pembangunan dengan penumpukan kapital
begitu jelas disini. Meski jarak kesenjangan belum terlihat terlalu lebar
seperti di Jakarta. Pemerintah kota harus mengubah konsep pembangunan yang
dianut. Salah satunya aspek yang sering dikorbankan adalah lingkungan. Sudah
menjadi rahasia umum, setiap hujan pasti banyak daerah tergenang dan
lama-kelamaan menjadi daerah banjir. Pohon-pohon dan drainase yang tidak
berfungsi selayaknya harus diperbaiki.Kasus lain adalah rencana “penggusuran”
maskot kota, Beruang Madu, dari KPWLH ke Inhutani karena adanya pengembangan
fungsi menjadi bumi perkemahan. Jika alasannya logis , mendesak danjelas gak
apa-apa, tapi ini tidak ada angin dan hujan, pemkot berencana memindahkan.
Nasib teluk Balikpapan yang tercemar dan hutan lindung yang dilewati jalur
jalan tol bpp-smd. Ruang Terbuka Hijau dibalikpapan semakin berkurang, tidak
sebanyak 40% seperti hitam diatas putih. Please pemkot, ingat Kalimantan adalah
paru-parudunia. Pembangunan berkelanjutan lebih baik dijalankan karena akan
berdampakdengan ekonomi berkelanjutan pula. Ingat konsep Green, Clean and
Healthy City yang diusung…
Penanganan bencana juga masih ada
kekurangan, seperti kebakaran di jalan Borobudur kemarin. Letak pemadam
kebakaran tidak sampai 1km dari lokasi kebakaran dan dekat dengan pertamina.
Tetapi ketika terjadi kebakaran, penanganan berjalan lambat karena disaat
bersamaan telah terjadi kebakaran duluan di daerah lain yang cukup jauh.
Sehingga semua pemadam dipanggil kesana.Harus ada perencanaan yang matang
mengenai hal tersebut.
Kasus yang lagi panas adalah isu dugaan
penjualan aset pemkot berupa lahan seluas 5,3 Ha yang dilakukan oleh wakil
walikota Balikpapan. Sempat memicu demo, yang jarang ada dibalikpapan, di DPRD
Balikpapan mendukung wawali dan menolak pansus penyelamatan asset yang dibentuk
DPRD. Inti masalahnya menurut saya adalah carut marutnya tumpang tindih
kepemilikan lahan yang sering terjadi di Balikpapan. Pemkot harus mencermati
masalah ini karena konflik agraria di daerah lain tidak jarang memakan korban,
jangan sampai hal tersebut terjadi di Balikpapan. Namun, jika kasus itu
nantinya benaradanya.Sungguh memalukan, karena Balikpapan jarang sekali
terdengar kasus korupsinya.
Masalah lain yang masih perlu diatasi
adalah masih klasik dari dulu yaitu air dan listrik. Selain itu, saya baca
Koran, pemerintah berencana membuka galian C di Balikpapan, padahal dulu sih
semua kegiatan pertambangan dilarang. Ada apakah ini?Pemerintah kota beruba
hhaluan?
masalah lain yang perlu diamati adalah
masalah kepemudaan di Balikpapan. Pembanguan yang cepat dan berbau kapitalis,
membentuk pemuda Balikpapan yang hedonis dan apatis. Hal tersebut harus diakui.
Gengsi begitu tinggi untuk selalu update dengan gadget terbaru dan
lainnya. Jangan sampai penerus kota terjebak dengan arus globalisasi yang
salah arah. Pendidikan di Balikpapan harus menanamkan nilai lokal yang
bisa diterima oleh mereka.Tidak ikutan geng motor, menjadi tukang keroyok,
selalu mejeng dan lain sebagainya. Main itu perlu tapi belajar itu keharusan.
seperti kata-kata dalam Tribun Kaltim
tanggal 5 februari "masyarakat balikpapan itu "pendiam", tidak
suka rumit-rumit. kalo ada keluhan tidak mau berteriak-teriak atau melakukan
reaksi keras. biasanya, lebih suka bergumam atau ngedumel dibelakang”. Ini
hanya keluhan saya dan saya belum menemukan saluran yang tepat untuk mengeluarkan
unek-unek saya.Saya harap di usia ke-116 ini, Balikpapan menjadi semakin baik,
semakin berprestasi baik lokal, nasional dan internasional, tidak ada
lagi air mati atau padam listrik, pemerintah semakin selektif dalam
program pembangunan, menjaga aspek ekologis yang ada di Balikpapan, dan
semakin-semakin yang lebih positif bagi kota dan seluruh warganya.
Jika ada salah dalam tulisan ini, saya
minta maaf. Ini hanya opini saya semata agar Balikpapan semakin baik. Saya
yakin diluar sana, Balikpapan masih menjadi kebanggaan bagi seluruh warga kota,
termasuk saya. Balikpapan Kubangun, Kujaga, Kubela. D:
Tidak ada komentar:
Posting Komentar